Kurangnya sarana produksi dibandingkan dengan potensi perikanan budidaya menjadi salah satu penyebab dari minimnya produksi ikan budidaya Indonesia. Angka produksi Indonesia dibandingkan Tiongkok tertinggal jauh. Tiongkok sudah memberikan kontribusi sekitar 60{7c4ec421b12a545820281165dc80452432c75dc8e101b1f7f42632ef415df94e} dari total produksi ikan budidaya di dunia, sementara produksi ikan budidaya Indonesia hanya 1/12 produksi Tiongkok atau 5{7c4ec421b12a545820281165dc80452432c75dc8e101b1f7f42632ef415df94e} produksi dunia. Padahal, potensi perikanan Indonesia terutama dari aspek garis pantai dan jumlah pulau jauh melebihi Tiongkok. Garis pantai Indonesia mencapai 95.000 km atau tiga kalinya Tiongkok (30.000 km). Andi J. Sunadim dari Masyarakat Aquaculture Indonesia (MAI) melihat kunci untuk meningkatkan produksi ikan budidaya Indonesia adalah dengan memperbanyak sarana Keramba Jaring Apung (KJA). Ia menganalogikan KJA dengan lahan pertanian untuk bercocok tanam. Jika pemerintah ingin meningkatkan produksi pertanian, tentunya harus membuka banyak lahan usaha tani baru. “Untuk budidaya ikan, kalau mau meningkatkan produksi, KJA harus ditambah. KJA adalah lahan budidaya ikan di laut, perlu upaya perbanyakan lahan berupa KJA,” kata Andi. Ketika ditemui Agro di dua kesempatan berbeda, alumni Sekolah Bisnis dan Management ITB Bandung itu menjelaskan panjang lebar mengenai fungsi KJA sebagai sarana kelautan dan perikanan untuk meningkatkan produksi ikan.
Secara umum, bagaimana kondisi sarana kelautan dan perikanan Indonesia dibanding Tiongkok sampai akhirnya ada ketimpangan angka produksi?
Dibanding dengan Tiongkok, jumlah KJA di Indonesia masih tertinggal jauh. Ada sekitar 1.500.000 (satu juta lima ratus ribu) KJA yang digunakan para pembudidaya di Tiongkok, sementara di Indonesia baru ada sekitar 30.000 (tiga puluh ribu) KJA yang terdiri dari 15.000 (lima belas ribu) KJA kayu dan 15.000 KJA modern dari HDPE (High Density Polyethylene). Kebetulan KJA modern yang dimaksud adalah produk AquaTec yang selama ini dipercaya KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) dan sudah terdaftar di ekatalog. Jumlah KJA di Tiongkok otomatis mendongkrak angka produksi, yakni sekitar 47,6 juta ton ikan budidaya segar per tahun, 15,6 juta ton diantaranya berasal dari air laut (FAO, 2015). Sementara itu angka produksi ikan budidaya Indonesia 4,3 juta ton per tahun, 1,3 juta ton diantaranya berasal dari air laut (FAO, 2015). Melihat dari panjang garis pantai yang dimiliki oleh masing-masing negara, angka tersebut kelihatan sangat timpang. Tiongkok memiliki 30.000km garis pantai dan menghasilkan 15,6 juta ton ikan budidaya air laut pada tahun 2015, sedangkan Indonesia dengan panjang garis pantai 95.000km menghasilkan 1,3 juta ton ikan budidaya air laut pada tahun 2015. Jika dibandingkan dengan Tiongkok, Indonesia memiliki garis pantai lebih dari tiga kali lipat Tiongkok, tapi kenyataannya, angka produksi ikan budidaya air laut Indonesia hanya 1/12 produksi ikan budidaya air laut Tiongkok. Perbandingan lainnya, Vietnam dengan panjang garis pantai 3.000km menghasilkan 0,8 juta ton ikan budidaya laut pada tahun 2015. Jika dibandingkan dengan Vietnam, Indonesia memiliki garis pantai lebih dari 30 kali lipat Vietnam namun baru mampu menghasilkan ikan budidaya laut berkisar 160 persen dari Vietnam. Hal ini menunjukkan potensi perikanan budidaya laut pesisir Indonesia masih belum termanfaatkan secara maksimal, dan masih banyak potensi ekonomi yang bisa digarap untuk kemakmuran rakyat Indonesia dari budidaya laut pesisir. Oleh karena itu, pemanfaatan potensi budidaya laut pesisir ini perlu dimanfaatkan secara optimal oleh semua stakeholder.
Data tersebut darimana?
Selama ini, kami mengacu pada data FAO (Food and Agriculture Organization). Data tersebut memperlihatkan bahwa potensi perikanan tangkap semakin menurun, sedangkan potensi perikanan budidaya semakin meningkat, terutama sejak tahun 1990. Saat ini, produksi ikan budidaya dunia didominasi oleh Tiongkok dengan total produksi 47,6 juta ton ikan per tahun pada tahun 2015. Dengan total produksi 47,6 juta ton per tahun, Tiongkok memberikan kontribusi sebesar 60 persen dari total produksi ikan budidaya di dunia. Dari total produksi sebanyak 47,6 juta ton, 30,6 juta ton berasal dari air tawar, 15,6 juta ton berasal dari air laut, dan sisanya berasal dari air payau. Posisi kedua ditempati oleh Indonesia dengan total produksi 4,3 juta ton pada tahun 2015. Dari total produksi sebanyak 4,3 juta ton, 2,9 juta ton berasal dari air tawar, dan 1,3 juta ton berasal dari air laut, sedangkan sisanya berasal dari air payau. Posisi ketiga ditempati oleh Vietnam dengan total produksi 3,4 juta ton setahun, yang terdiri dari 2,4 juta ton berasal dari air tawar, 0,8 juta ton berasal dari air laut, dan sisanya berasal dari air payau. Melihat dari perbandingan panjang garis pantai Indonesia dengan Tiongkok, Indonesia seharusnya mampu memproduksi ikan budidaya air laut 3 kali lipat dari Tiongkok yaitu 140 juta ton setahun. Melihat produksi budidaya ikan air laut Indonesia baru 1,3 juta ton, Indonesia secara teori seharusnya bisa meningkatkan produksi 100 kali lipat lagi. Artinya, pemanfaatan potensi budidaya ikan air laut Indonesia baru 1{7c4ec421b12a545820281165dc80452432c75dc8e101b1f7f42632ef415df94e}.
Sarana terkait untuk meningkatkan produksi sektor kelautan dan perikanan?
Selain keramba jaring apung dengan berbagai bentuk dan ukuran, Aquatec juga memproduksi rumah apung sebagai sarana untuk menjaga ikan. Selain untuk kegiatan budidaya ikan, rumah apung juga bisa dipakai untuk kegiatan wisata bahari, penelitian, observasi kelautan, dan lain sebagainya. Di Nusa Penida (Bali), rumah apung Aquatec dipakai sebagai sarana wisata. Di Makasar, tepatnya di pantai Losari, rumah apung Aquatec diubah menjadi restoran terapung, memberikan suasana sensasional makan ikan di tengah laut. Di Bangsring Banyuwangi, rumah apung Aquatec dimanfaatkan sebagai tempat sewa alat-alat snorkeling, jetski, dan lain sebagainya. Di Gondol (Bali), Lampung, Lombok, Batam, Situbondo, Ambon, Lamongan, banyak rumah-rumah apung AquaTec yang dijadikan base untuk penelitian sekaligus homestay. Peneliti bisa langsung mengawasi kegiatan budidaya dari laboratorium terapung. Di dalam rumah, ada bak-bak kecil untuk penampungan benih. Peneliti meneliti langsung di sebelah keramba dan bibit langsung dilepas ke keramba. Oleh karena banyaknya fungsi dan kreasi, pesanan rumah apung bisa customize.
Saat ini, pabrikan keramba jaring apung, dermaga apung, dan rumah apung di Indonesia baru ada di AquaTec. Aquatec merupakan produk asli dalam negeri yang memproses mulai dari bahan baku sampai barang jadi, memiliki sertifikat Tingkat Kandungan Dalam Negeri yang dikeluarkan oleh Kementerian Perindustrian RI, dan produk-produknya telah diuji di laboratorium Kementerian Perindustrian RI.
Teknologi terbaru untuk sarana kelautan dan perikanan?
Saat ini, Aquatec sudah mampu memprodusi KJA submersible, KJA offshore teknologi tinggi pertama di Asia. KJA submersible pertama kali dipasang di Lampung dan Bali. Setelah salah satu perusahaan Tiongkok meninjau produk KJA submersible tersebut, mereka membeli satu unit untuk testing di Hainan. Setelah terpasang, KJA submersible Aquatec terbukti sukses dan perusahaan tersebut memutuskan untuk membeli 80 unit KJA submersible. Inovasi KJA submersible berawal dari keprihatinan kami terhadap kondisi alam di laut lepas. Selain ombak besar, kegiatan budidaya dengan KJA juga rentan dengan terpaan badai typhoon. Belum lagi masalah plankton booming dan pencurian yang bisa terjadi kapan saja. Oleh karena itu, Aquatec menciptakan KJA submersible dengan sistem penenggelaman dan pengapungan dalam waktu yang sangat cepat. KJA submersible dapat ditenggelamkan sebelum badai datang, dan diapungkan kembali setelah badai reda. Selama ditenggelamkan, KJA submersible aman dari ombak setinggi 11 meter. Hal yang sama dapat dilakukan untuk menghindari plankton booming dan pencurian. Cocok untuk pembudidaya yang ingin memanfaatkan potensi perikanan budidaya di laut lepas.
Tidak heran kalau pemerintah provinsi Hainan tertarik dengan KJA submersible. Pemerintah Tiongkok sudah lama menerapkan sistem reimburse dari pembelian KJA, sehingga pembudidaya ikan di China bersemangat membeli KJA untuk membuka usaha budidaya ikan. Hingga saat ini, perusahaan budidaya ikan di China terus bermunculan. Sistem reimburse yang sama bisa diterapkan di Indonesia di kalangan pengusaha untuk mempercepat tumbuhnya industri perikanan budidaya.
Hal-hal lain di luar sarana, apa yang bisa meningkatkan produksi ikan?
Pemerintah Indonesia sangat suportif terhadap masyarakat dengan senantiasa memberikan bantuan keramba jaring apung, benih, dan pakan kepada koperasi yang beranggotakan nelayan. Namun, nelayan terbiasa hidup dari hari ke hari, mengandalkan pendapatan sehari untuk dipakai di hari yang sama. Ketika nelayan dijadikan anggota koperasi untuk mengurus budidaya ikan, banyak yang tidak siap dan putus di tengah jalan, dan yang berhasil panen tidak memutar uang hasil panen untuk berinvestasi benih dan pakan untuk siklus berikutnya. Hal ini yang mengakibatkan banyak keramba yang kosong atau mangkrak. Keramba dibiarkan dalam kondisi prima namun tidak dipakai untuk budidaya ikan. Oleh karenanya, dibutuhkan sistem inti plasma yang dibina oleh pengusaha sehingga koperasi terbiasa untuk memutar modalnya dan membuat kegiatan budidaya ikan menjadi berkelanjutan. Nelayan perlu diberikan penyuluhan untuk membangun jiwa usaha mereka sehingga usaha budidaya dapat berlangsung untuk jangka panjang dan terus berkembang.
Pengusaha budidaya ikan di Indonesia membutuhkan kemudahan dari pemerintah dalam hal investasi dan pemasaran. Dari segi investasi, proses perizinan untuk membuka usaha budidaya ikan perlu dipermudah, dan izin yang diberikan seperti hak guna lahan perairan perlu memiliki periode yang cukup, yaitu minimal 5 tahun. Dengan demikian, pengusaha memiliki kepastian hukum dan usaha sehingga mampu berfokus pada kegiatan budidaya.
Dari segi pemasaran, pemerintah dapat membantu pengusaha budidaya ikan dengan meninjau kembali peraturan-peraturan yang memberatkan proses ekspor ikan ke luar negeri, dikarenakan banyak komoditas ikan di Indonesia yang harganya mahal hanya jika diekspor ke luar negeri dalam keadaan hidup, seperti contohnya ikan kerapu. Ikan kerapu macan memiliki harga Rp 130.000/kg dan ikan kerapu tikus memiliki harga Rp 400.000/kg jika dijual dalam keadaan hidup ke Tiongkok. Namun, jika dijual di Indonesia, ikan kerapu hanya memiliki harga berkisar Rp 50.000-70.000/kg. Untuk meminimalisir mortality rate dan meningkatkan ekspor, ikan kerapu perlu diambil langsung dari keramba ke perahu. Selain itu, batasan ukuran kapal asing pengambil ikan perlu dihilangkan untuk meningkatkan efisiensi transportasi, dan jumlah pelabuhan tempat singgahnya kapal asing pengambil ikan perlu diperbanyak.